Selamat Datang di Helios Rynondeva's Blog
Showing posts with label Hortikultura. Show all posts
Showing posts with label Hortikultura. Show all posts

Friday, May 17, 2013

RAFFLESIA ARNOLDII DAN BUNGA BANGKAI

Rafflesia arnoldii dan Bunga Bangkai (Amorphpophallus titanium) merupakan dua jenis tanaman yang berbeda. Meski oleh masyarakat terkadang kedua jenis tanaman ini dianggap sama bahkan saling tertukar. Saya sendiri sempat mendengar seorang guru Sekolah Dasar yang mengatakan di depan murid-muridnya bahwa bunga Bangkai adalah Rafflesia.
Memang Rafflesia dan Bunga Bangkai (Suweg Raksasa) sama-sama memiliki ukuran besar (raksasa) dan mengeluarkan bau yang busuk. Namun antara Raflesia dan Bungan Bangkai (Amorphpophallus titanium) memiliki perbedaan pada klasifikasi biologi, bentuk, warna, cara hidupnya, dan siklus hidupnya.
RAFFLESIA
Rafflesia adalah genus tumbuhan bunga parasit. Ia ditemukan di hutan hujan Indonesia oleh seorang pemandu dari Indonesia yang bekerja untuk Dr. Joseph Arnold tahun 1818, dan dinamai berdasarkan nama Thomas Stamford Raffles, pemimpin ekspedisi itu. Ia terdiri atas kira-kira 27 spesies (termasuk empat yang belum sepenuhnya diketahui cirinya seperti yang dikenali oleh Meijer 1997), semua spesiesnya ditemukan di Asia Tenggara, di semenanjung Malaya, Kalimantan, Sumatra, dan Filipina. Tumbuhan ini tidak memiliki batang, daun ataupun akar yang sesungguhnya.
Rafflesia merupakan endoparasit pada tumbuhan merambat dari genus Tetrastigma (famili Vitaceae), menyebarkan haustoriumnya yang mirip akar di dalam jaringan tumbuhan merambat itu. Satu-satunya bagian tumbuhan Rafflesia yang dapat dilihat di luar tumbuhan inangnya adalah bunga bermahkota lima. Pada beberapa spesies, seperti Rafflesia arnoldii, diameter bunganya mungkin lebih dari 100 cm, dan beratnya hingga 10 kg. Bahkan spesies terkecil, Rafflesia manillana, bunganya berdiameter 20 cm. Rafflesia yang banyak dikenal masyarakat adalah jenis rafflesia arnoldii. Jenis ini hanya tumbuh di hutan sumatera bagian selatan, terutama Bengkulu.
Ciri utama yang membedakan rafflesia dengan bunga bangkai secara awam adalah bentuknya yang melebar (bukan tinggi) dan berwarna merah. Ketika mekar, bunga ini bisa mencapai diameter sekitar 1 meter dan tinggi 50 cm. Bunga rafflesia tidak memiliki akar, tangkai, maupun daun. Bunganya memiliki 5 mahkota. Di dasar bunga yang berbentuk gentong terdapat benang sari atau putik, tergantung jenis kelamin bunga. keberadaan putik dan benang sari yang tidak dalam satu rumah membuat prosentase pembuahan yang dibantu oleh serangga lalat sangat kecil, karena belum tentu dua bunga berbeda kelamin tumbuh dalam waktu bersamaan di tempat yang berdekatan. Masa pertumbuhan bunga ini memakan waktu sampai 9 bulan, tetapi masa mekarnya hanya 5-7 hari. Setelah itu rafflesia akan layu dan mati.
Sampai saat ini Rafflesia tidak pernah berhasil dikembangbiakkan di luar habitat aslinya kecuali Rafflesia patma yang berhasil hidup da mekar di Kebun Raya Bogor dan apabila akar atau pohon inangnya mati, Raflesia akan ikut mati. Oleh karena itu Raflesia membutuhkan habitat hutan primer untuk dapat bertahan hidup.
Sedikit informasi, selama 200-an tahun tumbuh-tumbuhan dari genus Rafflesiaceae sulit diklasifikasikan karena karakteristik tubuh yang tidak umum. Berdasarkan penelitian DNA oleh para ahli botani di Universitas Harvard baru-baru ini, rafflesia dimasukkan ke dalam family Euphorbiaceae, satu keluarga dengan pohon karet dan singkong. Tapi hal ini masih belum terpublikasi dengan baik.
Beberapa jenis Rafflesia (di Indonesia); Rafflesia arnoldii (endemik di Sumatra Barat, Bengkulu, dan Aceh), R. borneensis (Kalimantan), R. cilliata (Kalimantan Timur), R. horsfilldii (Jawa), R. patma (Nusa Kambangan dan Pangandaran), R. rochussenii (Jawa Barat), dan R. contleyi (Sumatra bagian timur).
Klasifikasi ilmiah: Kerajaan: Plantae; Divisi: Magnoliophyta; Kelas: Magnoliopsida; Ordo: Malpighiales; Famili: Rafflesiaceae; Genus: Rafflesia;
BUNGA BANGKAI
Selain rafflesia, bunga raksasa lain yang dikenal masyarakat adalah bunga bangkai atau suweg raksasa Titan Arum (Amorphpophallus titanium). Jenis ini hanya endemik tumbuh di kawasan hutan di Sumatera.
Bunga-bangkaiBerbeda dengan rafflesia, bunga bangkai titan arum ini berwarna krem pada bagian luar dan pada bagian yang menjulang. Sedangkan mahkotanya berwarna merah ke-ungu-an. Sekilas bentuknya saat mekar terlihat seperti bunga terompet. Bila rafflesia hanya melebar, bunga bangkai tumbuh menjulang tinggi. Ketinggian bunga bangkai jenis amorphophallus titanium ini bisa mencapai sekitar 4 m dengan diameter sekitar 1,5 m.
Bunga bangkai ini termasuk tumbuhan dari suku talas-talasan (araceae). Merupakan tumbuhan dengan bunga majemuk terbesar di dunia. Berbeda dengan rafflesia yang tidak dapat tumbuh di daerah lain, bunga bangkai dapat di budi daya. bila rafflesia parasit pada tumbuhan rambat, bunga bangkai tumbuh di atas umbi sendiri.
Bunga ini mengalami 2 fase dalam hidupnya yang muncul secara bergantian dan terus menerus, yaitu fase vegetatif dan generatif. Pada fase vegetatif, di atas umbi akan muncul batang tunggal dan daun yang sekilas mirip dengan pohon pepaya. Tinggi pohonnya bisa mencapai 6 m. Setelah beberapa tahun, organ generatifnya akan layu kecuali umbinya. Apabila lingkungan mendukung, dan umbinya memenuhi syarat pohon ini akan digantikan dengan tumbuhnya bunga bangkai. Tumbuhnya bunga majemuk yang menggantikan pohon yang layu merupakan fase generatif tanaman ini.
Bunga baru bisa tumbuh bila umbinya memiliki berat minimal 4 kg. Bila cadangan makanan dalam umbi kurang atau belum mencapai berat 4 kg, maka pohon yang layu akan di gantikan oleh pohon baru.
Selain itu, bunga bangkai merupakan tumbuhan berumah satu dan protogini, dimana bunga betina reseptif terlebih dahulu, lalu diikuti masaknya bunga jantan, sebagai mekanisme untuk mencegah penyerbukan sendiri. Bau busuk yang dikeluarkan oleh bunga ini, seperti pada rafflesia, berfungsi untuk menarik kumbang dan lalat penyerbuk bagi bunganya. Setelah masa mekarnya (sekitar 7 hari) lewat, bunga bangkai akan layu. Dan akan kembali melewati siklusnya, kembali ke fase vegetatif, dimana akan tumbuh pohon baru di atas umbi bekas bunga bangkai.
Apabila selama masa mekarnya terjadi pembuahan, maka akan terbentuk buah-buah berwarna merah dengan biji pada bagian bekas pangkal bunga. Biji-biji ini bisa ditanam menjadi pohon pada fase vegetatif. Biji-biji inilah yang sekarang dibudidayakan.
Klasifikasi ilmiah: Kerajaan: Plantae; Divisi: Magnoliophyta; Kelas: Liliopsida; Ordo: Alismatales; Famili: Araceae; Genus: Amorphophallus; Spesies: A. titanum; Nama binomial: Amorphophallus titanum (Becc.) Becc. ex Arcang

Sumber : http://petanikreatif.blogspot.com/search/label/Serba%20Serbi%20Flora#ixzz2TbisIBtm

INDONESIA, NEGERI KAYA FLORA

Jumlah spesies tumbuhan atau flora di Indonesia amatlah banyak. Sebagai negara negara megadiversity, kekayaan jumlah spesies flora (tumbuhan) Indonesia tidak perlu diragukan. Diperkirakan di seluruh dunia terdapat 2 jutaan spesies tumbuhan yang telah dikenali dan 60 % dari jumlah tersebut terdapat di Indonesia.
Namun jumlah pasti berapa banyak tumbuhan di Indonesia hingga kini belum dapat ditentukan. Menurut Mustaid Siregar, Kepala Pusat Konservasi Tumbuhan LIPI, meskipun Indonesia kaya akan keragaman flora, namun, saat ini baru ada 8.000 jenis yang sudah teridentifikasi. Jumlah tersebut diperkirakan baru 20 persen dari jumlah flora yang ada di Indonesia.

Padahal Indonesia tercatat sebagai negara dengan keanekaragam hayati tertinggi di dunia, termasuk dalam jumlah spesies tumbuhan. Beberapa fakta yang bisa saya sajikan di antaranya adalah:
  • 25% dari jumlah spesies tumbuhan berbunga yang ada di dunia terdapat di Indonesia. Jumlah ini setara dengan 20.000 spesies. Dan sekitar 40% di antaranya merupakan tumbuhan endemik atau asli Indonesia.
  • Indonesia memiliki sekitar 4.000 spesies Orchidaceae (anggrek-anggrekan).
  • Jumlah jenis tumbuhan berkayu dari famili Dipterocarpacea di Indonesia mencapai 386 spesies.
  • Jumlah jenis tumbuhan berkayu dari famili Myrtaceae (Eugenia) dan Moraceae (Ficus) mencapai 500 spesies.
  • Jumlah jenis tumbuhan berkayu dari famili Ericaceae mencapai 737 spesies.
  • Indonesia memiliki lebih dari 4.000 spesies paku-pakuan.
  • Jumlah jenis rotan di Indonesia mencapai 332 spesies.
  • Dari 1.200 spesies bambu yang tumbuh di bumi, 122 spesies di antaranya tumbuh di Indonesia.
  • Jumlah spesies pohon meranti (Dipterocarpaceae) di Indonesia terbanyak di dunia dengan ebih dari 400 spesies.
Pohon Kapur, salah satu pohon langka Indonesia
Tidak sedikit dari jumlah tumbuhan (flora) di Indonesia tersebut merupakan tumbuhan endemik Indonesia yang tidak dapat ditemukan di negara lain. Baca; Daftar Flora Endemik Indonesia; Daftar Tumbuhan Endemik Indonesia; dan Daftar Tanaman Endemik Indonesia.
Baru 20% yang teridentifikasi. Sayangnya meskipun Indonesia sangat kaya dengan ragam jenis tumbuhan, namun jumlah spesies yang telah dikenali dan teridentifikasi baru sekitar 20% saja. Ini artinya, masih terdapat 80-an persen jenis tumbuhan di Indonesia yang belum teridentifikasi.
Lantaran banyaknnya jenis tumbuhan Indonesia yang belum teridentifikasi menjadikan langkah konservasi terhadap berbagai jenis tumbuhan terasa kurang maksimal. Bahkan pemerintah hanya mampu menyebutkan 58 spesies tumbuhan saja dalam daftar tumbuhan yang dilindungi dalam Peraturan Pemerintah No 7 Tahun 1999. Padahal berdasarkan data IUCN Redlist, Indonesia memiliki sedikitnya 397 spesies tumbuhan yang terancam punah. Jumlah tumbuhan Indonesia yang terancam punah tersebut tergolongkan dalam 2 spesies dengan status Extinct In the Wild (Punah di Alam Liar), 115 jenis dengan status Critically Endangered (Kritis), 74 jenis tumbuhan berstatus Endangered (Terancam), dan 206 spesies tumbuhan dengan status Vulnerable (Rentan). Baca; Tanaman (Tumbuhan) Langka Indonesia yang Terancam Punah.
Kenyataan tentang jumlah spesies tumbuhan (flora) di Indonesia yang amat besar namun baru 20% saja yang telah teridentifikasi padahal memiliki tingkat keterancaman akan kepunahan yang tinggi seharusnya menjadi perhatian serius bagi pemerintah untuk menggalakkan berbagai usaha penelitian dan konservasi flora Indonesia.
Peran Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang salah satunya sebagai pemegang kewenangan ilmiah dalam keanekaragaman hayati di Indonesia tampaknya perlu semakin ditingkatkan. Termasuk pemanfaatan dan penambahan jumlah Kebun Raya sebagai area khusus untuk mempermudah pelaksanaan berbagai penelitian dan konservasi tumbuhan.
Harapan kita semua sama; jangan sampai kita kehilangan berbagai spesies tumbuhan kita, apalagi tumbuhan-tumbuhan yang belum sempat kita kenali.
Referensi dan gambar:
  • sains.kompas.com/read/2011/11/30/18112181/Baru.20.Persen.Flora.yang.Teridentifikasi
  • cecep_kusmana.staff.ipb.ac.id/2010/06/15/potensi-flora-indonesia
  • www.iucnredlist.org

PENGENDALIAN LAYU PISANG

Penyakit tanama pisang yang paling menimbulkan masalah dewasa ini adalah penyakit layu. Apa saja faktor penyebabnya dan bagaimana teknis pengendalian nya. Beriku sedikit ulasan yang disari dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat. 
 
1.      Layu Fusarium dengan gejala :
-          Daun layu mulai dari daun bawah
-          Buah mengeras
-          Kering
-          Hitam
2.      Layu Bakteri dengan gejala :
-          Layu mulai dari pucuk
-          Berlendir
-          Membusuk hati
-          Aroma tidak sedap
-          Buah bila dipotong berair
-          Air batang melacik, air batang membuat kulit kita gatal
Teknik pengendalian penyakit :
1.      pemilihan bibit bebas penyakit
2.      tanaman dibiarkan lubang tanamnya terbuka 15 hari
3.      penggunaan trichoderma pupuk kandang pemupukan awal
4.      jarak tanam 4 x 4 m
5.      alat-alat bayclin
6.      pencelupan bibit dengan larutan Pseudomonas fluorescens
7.      pengamatan berkala
8.      pupuk sususan dengan pupuk kandang + tricho
9.      pembatasan jumlah anak 2-3 batang
10.  tumpang sari
11.  dilakukan eradikasi selektif
12.  penggunaan agen beveuria
sanitasi sekitar lahan

PELUANG AGRIBISNIS LABU KUNING

Banyak bahan pangan lokal Indonesia yang mempunyai potensi gizi dan komponen bioaktif yang baik namun belum termanfaatkan secara optimum. Salah satu penyebabnya adalah keterbatasan pengetahuan masyarakat akan manfaat komoditas pangan tersebut, seperti misalnya labu kuning. Labu kuning sebenarnya merupakan suatu jenis tanaman sayur yang telah banyak dibudidayakan di Indonesia. Di beberapa sentra produksi, baik di Jawa, Sulawesi Selatan, Sumatera Barat, dan Kalimantan Selatan, komoditas ini telah ditanam pada luasan tidak kurang dari 300 hektar, namun pemanfaatan dari komoditas ini masih sangat minim. Padahal tanaman ini memiliki kandungan gizi cukup tinggi dan lengkap.

Buah labu kuning kaya vitamin A (dalam bentuk β-karoten), vitamin C (asam askorbat), mineral, senyawa antioksidan, senyawa antikangker, senyawa antidiabet, senyawa antihipertensi, senyawa antikatarak dan senyawa antiparkinson. Selain itu labu kuning juga banyak mengandung pectin, karbohidrat dan air yang dapat berperan dalam pembentukan makanan semi padat misalnya saos. Berikut ini disajikan alternative pengolahan labu kuning menjadi saos tomat-labu.
Proses pembuatan saos tomat-labu kuning terbagi menjadi 3 tahap yaitu pembuatan pasta labu kuning, pembuatan pasta tomat dan pembuatan saos tomat-labu kuning.

Pembuatan pasta labu kuning:

  1. Labu kuning dikupas, dihilangkan bijinya, dipotong, dan kemudian dicuci.
  2. Potongan labu kuning dipanaskan pada suhu 90-950C sampai agak lembek
  3. Labu kuning diblender sampai lembut dan menjadi pasta labu kuning
Pembuatan pasta tomat:
  1. Tomat dipotong, dicuci dan dihilangkan kulit dan bijinya.
  2. Panaskan pada suhu 60-650C selama ± 5 menit
  3. Diblender sampai lembut dan menjadi pasta tomat
Pembuatan saos tomat- labu kuning:
  1. Pasta labu kuning dan pasta tomat dicampur dengan perbandingan labu kuning : tomat adalah 4 : 1 atau 5 : 1
  2. Panaskan campuran pasta pada suhu 90-950C selama ±30 menit untuk tiap satu liter.Pada awal pemasakan ±1/3 bagian gula ditambahkan dengan cara ditaburkan untuk mencegah larutnya gula didasar ketel pemanas. Kemudian tambahkan bumbu halus bawang merah, bawang putih, merica serta cengkeh dan kayu manis.
  3. Setelah volume pasta berkurang menjadi setengahnya, tambahkan sisa gula, garam dan vinegar.
  4. Setelah jadi, saos tomat- labu kuning diangkat dan dinginkan.
  5. Packing dalam botol.
Sumber gambar : http://2.bp.blogspot.com


POHON BISBUL

Sumber : Alamendah Blog

Pohon dan Buah Bisbul (Diospyros discolor Willd.), kerap disebut buah mentega, makin hari makin dilupa keberadaannya. Seperti kerabatnya buah kesemek (D. kaki Thunb.), buah dan pohon bisbul semakin langka dan sulit ditemukan.
Pohon dan buah bisbul dikenal dengan berbagai nama yang berbeda seperti buah mentega dan buah lemak (Melayu) dan sembolo (Jawa). Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Mabolo atau Velvet Apple. Sedangkan nama ilmiah tumbuhan ini adalah Diospyros discolor dengan sinonim Diospyros blancoi A.DC., Diospyros durionoides Bakh., Diospyros malacapai A.DC., Diospyros merrillii Elmer, Diospyros utilis Hemsl., dan Cavanillea philippinensis Desr.
Penyebutan sebagai buah mentega dan buah lemak merujuk pada bentuk dan bau daging buahnya ketika masak. Sedangkan nama bisbul sendiri konon terinspirasi dari bentuk bola baseball.
Buah Bisbul
Buah Bisbul
Diskripsi Pohon dan Buah. Pohon bisbul tidak terlalu tinggi, umumnya sekitar 15 meter saja. Batangnya lurus dengan pepagan berwarna hitam dan diameter bagian pangkal sekitar 50 cm. Tajuk pohon mirip kerucut dengan cabang mendatar dan bertingkat dan daun yang lebat dan rapat.
Daun tumbuhan bisbul (Diospyros discolor) tumbuh berseling dan berbentuk lonjong dengan tepi rata, pangkal membundar dan ujung meruncing. Sisi atas daun berwarna hijau tua mengkilat sedangkan bagian bawah keperakan dan berbulu halus. Bunganya muncul di ketiak daun.
Buah bisbul buni bulat atau bulat gepeng berukuran 5-12 × 8-10 cm. Kulit buahnya berbulu halus dan berwarna coklat kemerahan, merah terang dan berubah agak kusam ketika masak. Daging buah bisbul berwarna keputihan, agak keras dan padat, agak kering, dan manis agak sepat. Buahnya berbau harum dan agak keras mirip bau keju dan durian (dari sini pula kemudian buah ini dikenal sebagai buah mentega). Dalam satu buah terdapat hingga 10 butir biji yang berwarna kecoklatan.
Tumbuhan langka ini tumbuh baik di daerah tropis pada berbagai jenis tanah dataran rendah hingga ketinggian 800 meter dpl.
Pohon Bisbul
Pohon Bisbul
Pemanfaatan Bisbul. Buah bisbul dapat dimakan langsung dalam keadaan segar atau digunakan sebagai campuran dalam rujak dan minuman. Dalam setiap 100 gram buah bisbul mengandung 2,8 gram protein, 0,2 gram lemak, 11,8 gram karbohidrat, 1,8 gram serat, 46 mg kalsium, 18 mg fosfor, 0,6 mg zat besi, vitamin A, vitamin C, tiamin, roblavin, dan energi.
Kayu pohon bisbul sebenarnya juga sangat bagus untuk dijadikan bahan kerajinan lantaran kayu yang berwarna coklat kemerahan hingga hitam ini memiliki tekstur yang halus, kuat, keras. Selain itu, dengan bentuk tajuknya yang kerucut, tumbuhan bisbul pun dapat menjadi pilihan untuk ditanam sebagai pohon hias.
Sayangnya pohon ini seakan semakin dilupakan sehingga keberadaan tumbuhan dan buahnya semakin langka. Tidak sedikit bahkan yang tidak mengenal pohon ini. Padahal buah bisbul dengan bentuk dan warna kulit menarik serta dengan daging buah dan aromanya yang khas semestinya layak bersanding dengan berbagai buah impor lainnya, bahkan di display toko swalayan besar.
Klasifikasi ilmiah. Kerajaan: Plantae. Divisi: Magnoliophyta. Kelas: Magnoliopsida. Ordo: Ericales. Famili: Ebenaceae. Genus: Diospyros. Spesies: Diospyros discolor.
Referensi dan sumber gambar:
  • www.theplantlist.org/tpl/record/kew-2769627
  • id.wikipedia.org/wiki/Bisbul
  • gambar: commons.wikimedia.org/wiki/Diospyros_blancoi