Tebu merupakan salah satu komoditi perkebunan yang
mempunyai nilai ekonomis yang baik dalam pengembangannya. Di kabupaten
Agam, Sumatera Barat sendiri, beberapa daerah dikenal produktif sebagai
sentra dalam budidaya tebu. Sebut saja Lawang Kecamatan Matua, Bukik
Batabuah Kecamatan Canduang, Sungai Landia Kecamatan IV Koto dan
beberapa wilayah lain. Walaupun khusus kabupaten kita lebih cenderung
pada produk hasilan berupa saka (gula merah), prospek pengembangannya
justru makin terbuka lebar.
Bahkan baru-baru ini Dinas Kehutanan dan Perkebunan
Kabupaten Agam membuka kesempatan khusus untuk pengembangan komoditi
tebu ini. Pihak Dishutbun mengharapkan adanya penambahan luas tanaman
tebu menjadi setidaknya + 30.000 Ha untuk beberapa waktu ke
depan menimbang komoditi ini memiliki nilai ekonomis yang dapat
mendorong pertumbuhan perekonomian daerah khususnya daerah sentra.
Bahkan tak tanggung-tanggung, rencana pembangunan pabrik pengolah yang
menampung hasil dari luasan yang ditargetkan menjadi muara dari rencana
ini.
Namun diluar daripada itu, beberapa alternatif lain yang
membuka prospek cerah bagi petani tebu dan membuat pembudidayaan tebu
semakin bergairah yakni selain memasarkan dalam bentuk produk olahan
gula merah, tebu dalam bentuk batangan pun saat ini mempunyai pasar
tersendiri yang membuat pemenuhan pemintaannya malah semakin kewalahan
akibat keterbatasan luasan lahan.
Pada beberapa wilayah sentra atau pengembang komoditi
tebu dengan tingkat populasi ternak yang tinggi, selain meraup rupiah
dari beragam hasil tebu termausk olahan seperti gula merah (saka), ampas
tebu sendiri bisa dimanfaatkan menjadi banyak hal berguna, bahkan
bernilai ekonomis. Selain sebagai sumber energi bahan bakar, ampas dapat
dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Dan bila skala besar, hal ini juga
bahkan membuka satu lagi peluang bisnis dari komoditi tebu yakni pakan
ternak seperti halnya kompos.
Di daerah-daerah sentra budidaya tebu dan pabrik gula,
ratusan kilo bahkan tontan ampas hanya menjadi sampah yang jarang
dimanfaatkan. Begitu juga di daerah kita. Walaupun produk olahan yang
dihasilkan sedikit berbeda, namun sampah dari olahan tersebut tetap
sama.
Saat ini belum banyak peternak menggunakan ampas tebu sebagai bahan pakan, hal ini mungkin karena ampas tebu memiliki serat kasar dengan lignin yang dikandung tergolong sangat tinggi yakni sekitar 19 – 20 % dengan kadar protein kasar rendah sekitar 26 - 28%. Akan tetapi limbah ini sangat berpotensi sebagai bahan pakan ternak. Melalui fermentasi menggunakan probiotik (mikroba),
kualitas dan tingkat kecernaan ampas tebu akan diperbaiki sehingga
dapat digunakan. Tahapan fermentasi ampas tebu sama dengan fermentasi
jerami. Namun penambahan beberapa bahan untuk melengkapi kebutuhan mineral yang dibutuhkan dalam bahan pakan tersebut perlu dilakukan.
Ampas tebu sendiri mengandung beberapa bahan pokok
antara lain air, gula, serat dan mikroba. Berdasarkan bahan kering,
ampas sendiri terdiri dari 47 % karbon, 6,5 % hidrogen, 44 % oksigen dan
abu dengan tingkat potensi yang cukup baik sehingga saat ini banyak
diteliti dalam rangka mencari sumber energi alternatif.
Dalam pemanfaatannya sebagai bahan pembuat pakan ternak,
sumber bahan pokok di atas berperan penting sehingga mempunyai peran
dalam memberikan asupan nutrisi terhadap ternak. Potensi ampas tebu ini
cukup tinggi menimbang tebu sendiri mengandung gula yang merupakan
sumber nutrisi yang baik. Untuk skala sederhana, bahan dan dosis yang
perlu dicampurkan dalam fermentasi ampas tebu ini antara lain untuk 1
ton ampas tebu diperlukan 1 kg mikroba/ starbio, 1 kg pupuk urea serta
masing-masing 200 gr untuk pupuk TSP dan ZA. Penambahan bahan-bahan
tersebut mempunyai peran tersendiri dalam pembuatan pakan ternak
menggunakan ampas tebu. Mikroba/ starbio sudah barang tentu diberdayakan
untuk mengurai lignin dan selulosa serat kasar sehingga memiliki
tingkat kecernaan yang memenuhi syarat untuk ternak. Sementara urea
sendiri diperlukan untuk meningkatkan kadar protein ampas tebu dan
sumber nitrogen yang berperan menstimulir aktivitas mikroba dalam proses
penguraian. Dan untuk pupuk TSP tetap sebagai sumber phosphor serta ZA
sebagai sumber sulfurnya.
No comments:
Post a Comment